Showing posts with label Ceritaku. Show all posts
Showing posts with label Ceritaku. Show all posts

Thursday, 8 December 2016

Dari Kompetisi Hingga Jatuh Hati

Memang yang namanya jodoh itu nggak bisa ditebak, atau mungkin hanya tak disadari. Bisa tahu-tahu ketemu dan cocok atau berproses kemudian tumbuhlah kecocokan itu. Bagiku jodoh nggak melulu berarti pasangan hidup. Jodoh artinya lebih mengarah pada kecocokan dua hal. Entah itu kecocokan antara dua manusia, kecocokan pilihan baju, kecocokan pembeli rumah dan rumah yang dipilihnya dan lain sebagainya. Kali ini aku ingin membagikan sedikit tentang Universitas Airlangga (Unair) dan jodohku. Siapa jodohku ? Ya, Unair.

Lima semester berlalu sejak pertama kalinya menginjakkan kaki dengan bahagia, diterima sebagai mahasiswa di universitas kebanggaan masyarakat Jawa Timur, Unair. Semuanya berawal ketika aku duduk di kelas sepuluh, madrasah aliyah. Saat itu aku dihadapkan pada kemauan menulis karya tulis dan keinginan untuk berprestasi agar bisa membanggakan orangtua (ciyee... anak baik ya... Hahaha). Namun, berulang kali mengirimkan karya, berulang kali pula semuanya berbalas kecewa. Tak kurang dari tujuh kali berturut-turut aku mencoba mengrimkan karya tulis ke berbagai lomba mulai dari yang diadakan oleh universitas sampai yang diadakan oleh Depdiknas. Gagal lagi dan lagi.

Pertama kali ke Unair
Sampai akhirnya Unair datang bak pangeran berkuda putih yang menyelamatkanku dari ke-hopeless-an (agak lebai yaa..). Begitulah kenyataannya. Setelah berkali-kali keinginan untuk mengikuti kompetisi gagal, akhirnya Fakultas Kedokteran Gigi Unair memberiku harapan dan kesempatan untuk mempresentasikan karyaku dalam Dentine Essay Competition. Berita baiknya, timku dipilih sebagai yang terbaik. Tentu senangnya luar biasa, benar-benar penantian yang berbuah sangat manis. (http://bisanulis.blogspot.co.id/2013/08/dentine-essay-competition-fkg-unair.html)
Kedua kali ke Unair

Melalui kompetisi itu pula, untuk pertama kalinya aku, yang notabene cuma anak kampung ini main-main ke kota pahlawan dan mengagumi Fakultas Kedokteran Unair. Masih lekat dalam ingatan, sebelum pagi itu final presentasi di gedung FKG Unair dimulai, travel yang mengantarku dari Kediri-Surabaya, sempat nyasar dulu ke kampus B Unair (lumayan.. jalan-jalan dulu, ngintip kampus B Unair). Pagi itu pula aku berkata lirih dalam hati bahwa suatu saat nanti akan kembali ke sini.

Ketiga kali ke Unair
Cerita pun berlanjut saat Fakultas Sains dan Teknologi menyelenggarakan kompetisi debat ilmiah sekitar tahun 2013 lalu. Aku bersama rombongan teman-teman di KIR An-Nahl MAN 3 Kediri mengirimkan esai ilmiah kami untuk kemudian diseleksi dan dipilih siapa saja yang bisa berlanjut ke tahap berikutnya sebagai peserta debat ilmiah. Kalau tidak salah ingat, saat itu ada lima tim dari sekolahku yang mengirimkan karya dan seluruhnya diterima, dua tim kami menjadi juara. Sekali lagi melalui kompetisi, Unair membuatku jatuh hati. Gedung FST Unair yang ada di kampus C, sebagai tempat pelaksanaan lomba, memberiku kesempatan untuk kembali mengagumi Unair. Saat itu, aku sangat mengagumi pemandangan kampus C Unair yang rapi didominasi warna biru dan kuning. Suasana sekitar yang teduh, sejuk dan hijau di tengah Surabaya yang terik juga memberikan pengalaman luar biasa. Lagi, aku berkata lirih dalam hati bahwa suatu saat nanti aku akan kembali datang ke tempat ini.

Baru-baru ini bersama Unair
Kemudian, harapanku pun dijawab lebih cepat dari yang kukira. Memasuki tahun 2014, FST Unair kembali menyelenggarakan lomba, kali ini lomba esai ilmiah. Bermodal semangat, kemauan menulis, bimbingan guru dan pastinya yang paling kuat daya dorongnya... keinginan untuk jalan-jalan, bersama seorang teman aku kembali mencoba mengikutsertakan tulisan kami. Hasilnya ? Di luar dugaan, esai kami terpilih sebagai yang terbaik dan kami pun diundang dalam acara seminar nasional yang diadakan di Ruang Garuda Mukti, Gedung Rektorat Unair, untuk penyerahan hadiah. Sekali lagi, kompetisi memberiku kesempatan untuk melihat Unair lebih jauh. Lagi-lagi aku jatuh hati dan aku kembali berkata, lirih saja, nanti.. aku akan kembali lagi.

Hari ini aku sedang menulis artikel, mencoba peruntungan dalam kompetisi bertemakan Fun Experience with Unair, di dalam salah satu ruangan, gedung ungu, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang setiap hari juga semakin kucinta. Ya, inilah jawaban dari harapanku untuk kembali ke Unair. Aku diterima sebagai mahasiswi psikologi melalui SNMPTN. Bagiku, ini rencana Tuhan yang indah, dan inilah jodohku, psikologi Unair.

Thursday, 21 May 2015

School of Mawapres (SOM) 2 UNAIR

16/05-Pukul 07.30 kursi-kursi Aula gedung student center Universitas Airlangga yang terletak di kampus C, Mulyorejo, Surabaya telah banyak diisi peserta SOM 2. Acara yang diprakarsai oleh Garuda Sakti UNAIR ini bertujuan menyampaikan informasi serta memberi arahan untuk menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres).

Terdapat tiga pembicara utama dalam kegiatan ini yang merupakan pakar di bidang masing-masing. Pemateri pertama menyampaikan alur yang harus dijalani saat mendaftarkan diri sebagai calon Mawapres. Pemateri kedua, menyampaikan tata cara penulisan karya tulis ilmiah yang merupakan salah satu unsur penilaian dalam Mawapres. Pemateri ketiga menyampaikan tata cara presentasi. Masing-masing materi disampaikan dengan menarik oleh pembicara. Di akhir materi, peserta SOM 2 diberi kesempatan bertanya.

Usai jam istirahat dan makan siang, peserta SOM 2 dibagi dalam kelompok kemudian diharuskan menyampaikan argumen dalam simulasi debat. Momen ini berlangsung seru karena tidk semua peserta pernah mencoba debat atau lomba debat. Namun demikian, seluruh peserta antusias untuk menyampaikan pendapat sesuai mosi yang diberikan. 

SOM 2 kali ini diikuti oleh mahasiswa UNAIR dari seluruh fakultas. Mereka diseleksi berdasarkan curiculum vitae yang telah dikumpulkan kepada paniitia. Tercatat 141 nama dinyatakan lolos seleksi tersebut dan berhak mengikuti School of Mawapres 2 ini.

Saturday, 16 May 2015

Kelas Inspirasi Fakultas Psikologi UNAIR 2015

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dalam rangkaian acara perayaan hari jadinya yang ke-32 menyelenggarakan Kelas Inspirasi. Dalam kegiatan tersebut, diundang 32 alumni yang telah berhasil meniti karir hingga mencapai kesuksesan. Program yang diikuti oleh seluruh mahasiswa psikologi UNAIR ini, digelar dengan tujuan meluaskan wawasan serta menebar inspirasi bagi para pesertanya.

Tahun ini mahasiswa angkatan 2014 hingga 2011 adalah pesertanya. Kelas Inspirasi dilaksanakan selama dua hari (9-10 Mei 2015) dalam 3 sesi. Masing-masing kelas diikuti kurang lebih 50 mahasiswa dengan satu pembicara (baca:inspirator).

Saya menjadi salah satu yang merasa beruntung bisa mengikuti kegiatan ini. Pada kelas sesi pertama, inspiratornya adalah Deputi CEO salah satu perusahaan ternama. Salah satu produk dari perusahaan tersebut adalah kopi yang sangat akrab di telinga masyarakat. 

Beliau mengawali penjelasan dalam Kelas Inspirasi dengan menceritakan pengalamannya saat masih awal bekerja di perusahaan serta sempat beberapa kali berpindah tempat kerja karena adanya ketidak cocokan yang dirasakan. Dengan gaya bercerita yang dipadukan dengam humor, pria ini menghidupkan semangat pagi dalam Kelas Inspirasi yang dimulai pukul 08.00 WIB.

Lebih lanjut, beliau juga menyampaikan pentingnya penguasaan keterampilan di luar apa yang telah diajarkan di bangku kuliah. Menurutnya, dunia kerja mengharuskan kita memiliki wawasan yang luas, siap bekerja keras serta memiliki semangat berkontribusi bagi perusahaan (baca:tempat kerja). Lebih lanjut beliau menyampaikan, umumnya mahasiswa enggan mempelajari ini dan itu karena merasa tidak memerlukannya. Padahal, seringkali apa yang mereka remehkan ternyata sangat dibutuhkan saat sudah memasuki dunia kerja.

Pekerjaan menurutnya ibarat sebuah panggung. Saat panggung tidak digunakan dengan baik oleh seorang penampil, maka panggung itu akan diambil orang lain. Artinya, seorang pekerja tanpa kesiapan kemampuan kerja yang memadai pasti sulit mempertahankan pekerjaan yang dimilikinya karena ada sumber daya lain yang memiliki kualitas lebih tinggi yang siap bersaing dan mengambil alih posisinya.

Dijelaskan juga pentingnya mengikuti pelajaran di kelas selama masa kuliah dengan sungguh-sungguh. Berdasarkan pengalamannya, beliau menyimpulkan bahwa kuliah memang tidak mampu menyiapkan mahasiswa secara total menuju dunia kerja. Tetapi, kuliah ibarat perguruan shaolin  yang mengajarkan jurus dasar. Misalnya, pukulan satu-dua-tiga dengan berbagai posisi. Saat si pendekar shaolin beraksi melawan penjahat misalnya, dia tentu tidak menggunakan hitungan-hitungan seperti diajarkan di perguruan itu. Pendekar akan memadukan ilmu-ilmu dasar tersebut untuk menakhlukan lawan. Artinya, pembelajaran yang didapat di bangku kuliah sangatlah penting. Ilmu yang diperoleh adalah landasan berpikir yang nantinya diterapkan dalam dunia kerja.

Kemudian, alumni S-1 Psikologi UNAIR ini melanjutkan materi dengan menyampaikan perbedaan rekrutmen dan seleksi, ulasan tentang Human Resource and Development (HRD), pentingnya memahami hukum ketenagakerjaan, serta bagaimana menjadi pemimpin yang baik.

Satu setengah jam berlalu, Kelas Inspirasi sesi pertama ditutup dengan pesan "Do the best now, praktikan apa yang kamu dapat di kelas secepatnya !". Kelas Inspirasi memang sesuai dengan namanya, memberi inspirasi bagi pesertanya. Cerita yang disampaikan oleh narasumber yang telah berpengalaman, dengan gaya yang menarik tentu mampu menyuntikkan energi baru. Semangat pantang meyerah untuk meraih masa depan yang indah.

Monday, 4 May 2015

Buket Bunga di Pagi Buta

Alkisah, jam baru menunjukkan pukul 04.30. Aku bermimpi dibentak oleh sebuah suara yang sangat mengagetkan. Entah apa yang ia ucap, aku tidak ingat. Terbangun, dan berpikir sejenak. Apa atau siapa yang ada dalam mimpiku tadi ? Ternyata, cukup lama aku tertegun memikirkan mimpi. Saat kulihat kembali handphoneku, jam menunjukkan pukul 05.00, aku bergegas mandi. 

Segar sudah badan dan suasana hati pagi ini setelah kemarin cukup muak dengan laptop yang ngadat saat tugas-tugas makalah  mengejar untuk diseslesaikan detik itu juga. Seperti biasa, kegiatan rutin di pagi hari kuawali dengan menyibak tirai jendela, supaya sinar matahari menyinari ruang kamarku dan sejuknya udara pagi Surabaya yang limited edition bisa kunikmati dengan leluasa. Tanpa sengaja, aku melihat sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, ya, di bawah sana, tepat di sebuah rumah yang terletak di permpatan gang, asik bercanda berdua. 

Si laki-laki tampil rapi dengan setelan seperti habis kondangan, dengan hem lengan panjang warna abu-abu dengan bawahan celana jeanz dan sepatu. Si wanita, tampil masih dengan kostum pagi ala anak kos, celana training dengan atasan kaos seadanya berbalut jaket kain sekenanya, sepertinya belum mandi. Pemandangan yang membuatku tertarik untuk mengamati dari balik jendela bukanlah penampilan mereka, melainkan buket bunga yang dipegang mesra di tangan kiri si wanita. Gila, sepagi ini ?. Kado ulang tahun mungkin ya...(mungkin juga kurir bunga :D)

Memang, awalnya aku terheran-heran saat pertama datang ke kota ini. Hampir setiap pulang dari kampus, tidak peduli malam maupun sore hari, di banyak rumah kos aku menyaksikan laki-laki dan wanita, ngobrol akrab layaknya suami istri. Lama-kelamaan aku jadi tak peduli. Kuanggap itu salah satu dampak westernisasi yang merusak batas dan norma luhur yang sebenarnya adalah aset budaya bangsa ini. Kalaupun aku peduli, apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki keadan ? Aku bingung.

Namun, "pemandangan" sepagi ini, dengan buket bunga mawar merah dan putih di bawah sana mengingatkanku akan salah satu pelajaran yang kuterima di kampus, mata kuliah psikologi perkembangan. Salah satu tokoh, Erik Erikson namanya, mengungkapkan bahwa salah satu tugas perkembangan yang diemban manusia usia dewasa awal adalah menjalin kedekatan (intimacy) atau hubungan dengan orang lain. Secara khusus, orang lain yang dimaksud adalah lawan jenis. Ya, tampaknya itu benar. Itulah jawaban mengapa banyak orang bingung menghadapi lingkungan yang mulai banyak bertanya sekaligus mendikte, "Kapan nikah?", "Mana pasangannya, kok sendirian saja?". Mereka yang sudah dewasa dianggap sudah semestinya menjalin hubungan dengan pasangan hidup.

Tetapi, sebetulnya apakah psikologi juga pernah menjelaskan bagaimana cara yang baik atau setidaknya cara ideal untuk menjalin kedekatan ? Spesifiknya, sebelum pernikahan ?. Tetapi berikutnya adalah, Erik Erikson itu tokoh dari barat, sementara Indonesia katanya termasuk daerah timur dan memegang adat ketimuran. Lalu, benarkah tugas perkembangan seperti disebutnya berlaku pada rentang usia yang sama untuk orang Indonesia?. Hasil browsingan menunjukkan, orang barat, di usia yang masih 17 tahunan sudah lepas dari keluarga. Mereka mulai berjuang hidup sendiri secara mandiri. Ya, itulah budaya barat yang individualis. Sementara itu, anak-anak bangsa ini, di usia 17 tahun bukankah kebanyakan masih berlindung di bawah orangtua, kasarannya, dalam hal keuangan juga masih minta orangtua ?. Itulah budaya kolektivis.

Lantas, dimanakah titik temu dua keadaan yang berbeda tersebut ? Bisakah, orang kita yang belum mandiri ikut-ikutan mengemban tugas perkembangan seperti disebutkan ? Ini yang belum kutemukan. Di satu sisi, ketertarikan terhadap lawan jenis adalah hal wajar. Tetapi, cara manusia "masa kini" mengekspresikannya sangatlah beragam. Sayang, sebagian diantaranya kebablasan dan salah jalan. 

Jadi, apa manfaat tulisan ini ? Lagi-lagi sekedar berawal dan berakhir dengan tanda tanya.

Saturday, 2 May 2015

Dadi Wong Jawa

Masih pagi, hanya sendiri, mendung dan gerimis. Berteman segelas teh hangat, kenyang dengan menu sayur lodeh dan sambel teri. Jadi ingat rumah, ingat ibu dan bapak yang sejak kecil selalu membiasakan sarapan setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Tidak lupa, mereka juga menyisipkan guyonan sederhana di tengah ricuhnya pagi dengan tiga orang anak yang hendak pergi sekolah. Anak pertama masih belum menemukan buku matematikanya, anak kedua masih sibuk mencari peniti untuk jilbabnya, sedangkan anak ketiga sibuk mencari kaos kaki kesayangannya. 

Pagi memang harus dihadapi dengan senyum dan kesabaran. Siapa yang paling sabar ? Siapa lagi kalau bukan ibu tercinta yang sejak pukul 04.30, bersamaan dengan berkokoknya ayam sudah mengayuh sepeda, bergegas ke perempatan desa menuju surga belanja aneka sayuran. Aku ? selalu semangat mengikuti beliau tetapi dengan tujuan yang berbeda. Jahatnya, bukan tulus membantu justru minta dibelikan jajanan pasar yang legit dan menggoda itu. 

Suasana syahdu seperti ini mengingatkanku pada pelajaran Bahasa Jawa yang kuterima sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Aku belajar aksara jawa, basa ngoko, krama, menghafal nama-nama pewayangan, istilah-istilah, tembang macapat, bahkan nama anak-anak hewan pun tersedia dalam kamus orang jawa. Aku masih ingat bagaimana cerahnya wajah bapakku menyaksikan angka sembilan untuk pelajaran Bahasa Jawa di rapor SD anaknya. Memang, tidak banyak dari teman-teman sekelasku yang bisa mendapatkan nilai lebih dari tujuh untuk pelajaran yang satu ini. Ya, mereka memang orang kota (begitu kata bapakku). Aku juga tidak paham apa alasan orangtuaku menyekolahkanku di sekolah yang berada di tengah perumahan itu. Mungkin, supaya aku tidak bandel bermain dengan anak-anak tetangga desa yang itu-itu saja, dan setidaknya punya keunggulan di sekolah, meski cuma satu mata pelajaran, hahahaha...

Unik dan luhurnya budaya memang harus dipelihara. Jawa, memang indah. Ia identik dengan lemah-lembut, luwes, kalem, bersahaja. Kemarin, aku menemukan postingan menarik di facebook tentang beberapa filosofi Jawa. Aku juga ingat, dulu sering sekali membaca kalimat-kalimat ini di pepak Basa Jawa, tetapi tidak pernah benar-benar memahami maknanya. Oleh karena itu, pagi ini kubaca, kutuliskan kembali, supaya ingat, supaya mancep, sebagaimana mestinya orang jawa tulen berlaku.

1. Urip Iku Urup
- Hidup itu nyala -
(Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita)

2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro
- Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak -
 
3. Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti

- Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar -

4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
- Berjuang tanpa perlu membawa masa, menang tanpa merendahkan atau mempermalukan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, kaya tanpa didasari kebendaan-

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
- Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, jangan sedih manakala kehilangan
sesuatu -

6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, ojo Kagetan, ojo Aleman
- Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut, jangan mudah kolokan atau manja-

7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
- Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi-

8. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Cilaka
- Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka -

9. Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
- Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah, jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat -

10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno
- Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti -

Jawa juga punya quotes yang indah, sangat dalam maknanya serta cocok untuk diterapkan dalam kehidupan. Demikian nostalgia pagi ini kuakhiri, semoga bermanfaat.

Saturday, 14 March 2015

Psikologi dan Ekspektasi : Mengapa Aku Begini ?

Sebuah tulisan yang disusun unuk memenuhi tugas mata kuliah bahasa Indonesia sekaligus buah perenungan.

Pertanyaan pertama, mengapa Anda diberi nama seperti yang Anda miliki saat ini ?
Nursita Afifah, sebuah nama kecil yang diabadikan dalam akta kelahiran saya. Telah, sedang dan akan terus disematkan sebagai panggilan diri. Orangtua mengisahkan bahwa nama itu diberikan oleh kakek. Nur diambil dari bahasa Arab yang saya yakin banyak orang yang hafal dengan artinya yaitu, cahaya. Sita diambil dari bahasa Jawa yang bisa diartikan putih, sejuk atau dingin. Afifah diambil dari bahasa Arab yang artinya suci. Jika rangkaian kata tersebut disatukan jadilah nama indah (setidaknya menurut saya), yaitu Nursita Afifah yang secara keseluruhan bisa diartikan cahaya putih yang suci. Nama tersebut adalah doa orangtua agar saya bisa menjadi cahaya, penerang, pembawa kebahagiaan yang mampu menjaga kesucian sebagai seorang wanita yang bermartabat, serta bisa membawa kedamaian atau ketentraman khususnya dalam keluarga. Semoga, saya mampu memenuhi harapan orangtua. Amin.

Pertanyaan kedua, mengapa Anda memilih kuliah psikologi ?

Sebuah pertanyaan yang mengajak saya kembali mengingat masa galau menjelang kelulusan MA dulu. Terlalu banyak orang yang menyangsikan pilihan saya saat itu. Terlalu banyak orang yang memertanyakan pilihan saya untuk kuliah di jurusan psikologi. “Mau jadi apa ? Mau ndukuni orang, Mbak ? Kamu kan jurusan IPA kok ngambil psikologi ?”, itulah sederet pertanyaan yang terlalu sering saya dengar gara-gara ngeyel ingin belajar psikologi. Ingin rasanya saya meneriakkan bahwa ini hidup saya, yang belajar saya, hari ini atau yang akan datang juga saya yang menjalaninya, ngapain kalian banyak nanya, ha ?. Saya pikir manusia memang sering entah secara sadar atau tidak, terlalu percaya diri menghakimi hidup orang lain.

Bicara tentang masa depan atau ‘mau jadi apa’, saya rasa kuliah di jurusan apa pun pasti masih abu-abu, tidak ada yang bisa memastikan. Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha mendekati tujuan serta mewujudkan impian. ‘Mau jadi apa’ memang menyiratkan orientasi kuat ke arah pekerjaan. Kuliah menjadi salah satu jalan yang selama ini dipandang efektif untuk mencerahkan masa depan pekerjaan. Tentu kampus tidak semestinya dimaknai sedangkal itu. Jika semua orang termasuk juga semua mahasiswa hanya berpikir demikian, dikhawatirkan angka orang gila di Indonesia akan mengalami peningkatan, mengapa ? Bisa kita bayangkan jika semua orang melihat kuliah hanya sebagai landasan menggaet pekerjaan, begitu si mahasiswa diwisuda dan tak kunjung mendapatkan pekerjaan, dia mungkin bisa gila karena dihujani opini orang-orang di sekelilingnya. Padahal pekerjaan bisa saja bukan dicari tetapi diciptakan sendiri. Bukankah kampus adalah sarana pencetak ilmuwan atau akademisi ? Penting untuk dimengerti bahwa urusan pekerjaan bukan satu-satunya tujuan.

Psikologi dengan beberapa fokus kajian di dalamnya memiliki ranah pekerjaan yang luas. Di mana ada manusia, maka di situlah psikologi bisa bekerja. Psikolog, konsultan, trainer, dosen, peneliti, penulis, motivator, juga HRD hanyalah beberapa dari sekian banyak profesi yang bisa digeluti oleh mereka yang menekuni psikologi. Beberapa dari profesi tersebut memang menjadi faktor pendorong bagi saya untuk memelajari psikologi. Selain itu, psikologi adalah ilmu yang unik dan menarik karena mengajak kita mengenal makhluk paling sempurna di dunia yaitu manusia dengan berbagai problematika di sekitarnya.

Alasan lainnya sederhana saja, saya tidak merasa senang jika harus menghitung rumus-rumus dalam ilmu fisika dan kimia. Berdasarkan fakta tersebut saya menyadari bahwa tidak sebaiknya memaksakan diri masuk Fakultas Kedokteran apalagi Fakultas Sains dan Teknologi. Saya memang lebih senang bermain dengan kata dan analisa daripada hitungan dan angka. Memang selama sekolah di MA saya adalah siswi jurusan IPA, namun saya rasa tidak ada yang salah jika akhirnya memutuskan mengambil jurusan bidang sosial di bangku kuliah. Tidak ada yang perlu saya sesali dari masa MA yang saya lalui sebagai anak IPA tersebut. Itu adalah bagian dari alur kehidupan yang justru membuat saya semakin menyadari dan menerima bahwa memang ilmu fisika, kimia, biologi bukanlah keunggulan dan impian saya.

Pertimbangan lain yaitu, supaya lebih mampu memahami diri sendiri dan orang lain. Dengan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh di balik perilaku manusia, saya berharap menjadi pribadi yang lebih bijak dalam bersikap. Saat ini saya telah menjadi mahasiswi jurusan psikologi, benarkah saya mendapatkan apa yang saya harapkan ? Ya, saya bersyukur bisa menikmati kuliah di jurusan psikologi meski belajar di sini tidak semudah dan sesederhana yang dibayangkan. Buku-buku referensi yang mayoritas diambil dari barat (berbahasa asing) kian mempersulit saya untuk memahami teori yang dipaparkan. Belum lagi tumpukan tugas esai, laporan, proyek dan lain sebagainya yang seperti tanpa jeda setiap harinya. Ini masih ditambah lagi dengan ekspektasi orang di luar sana yang sering menganggap mahasiswa psikologi sebagai manusia dengan kemampuan membaca pikiran dan memprediksi masa depan. Meski kenyataan itu sempat membuat saya merasa tidak nyaman, akhirnya saya mengerti bahwa itulah konsekuensi menjadi mahasiswa psikologi yang tidak mungkin dihindari.

Meminjam pernyataan salah satu dosen, belajar psikologi ibarat menangkap belut dalam oli. Ini memang benar adanya. Namun, setiap pilihan mestinya bukan tanpa alasan, pertimbangan dan kesiapan untuk mempertanggungjawabkan. Inilah pilihan, kesukaan dan cita-cita saya. Maka, akan saya nikmati setiap kesulitan dan kemudahan yang bermunculan karenanya.

Friday, 16 August 2013

Dentine Essay Competition FKG UNAIR






Beberapa foto di atas adalah dokumentasi yang saya ambil tahun 2013. Saat itu bersama dengan seorang teman, saya mengikuti sebuah kompetisi keren yaitu Dentine Essay Competition. Acara tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR.

Lomba itu diawali dengan pengiriman esai kepada panitia untuk kemudian diseleksi. Esai yang dinyatakan lolos, diundang untuk presentasi di hadapan dewan juri. Saat itu media presentasi yang digunakan berupa poster.

Foto paling atas adalah poster yang tim saya buat.